Feeds:
Posts
Comments

“Saya berusia 4 tahun ketika kami sekeluarga pergi dari Somalia, menuju sebuah tempat yang asing, sebuah sudut sesak yang dipenuhi tenda di sebuah kota di Kenya. Di kemudian hari, saya tahu, tempat itu adalah kamp pengungsian warga Somalia.” Sesekali, pembicara itu mengambil jeda di antara kalimat. Tampak seperti menahan emosi dan lara dibalik kata demi kata yang coba dia untai.

“Saya terlalu kecil untuk mengerti ‘ada apa’ dan ‘kenapa’. Saya tidak tahu apa2. Yang saya tahu dan ingat, lautan manusia berbondong-bondong berjalan dengan wajah penuh kecemasan dan kesedihan.” Perempuan itu melanjutkan ceritanya. Suaranya lebih jelas dan tegas, meski terkadang masih terdengar lirih. Suasana ruangan tampak syahdu. Peserta seolah larut dalam sajian cerita demi cerita yang teruntai hari itu.

Perempuan itu adalah Ilhan Omar. Dia adalah satu dari puluhan ribu warga Somalia yang mengungsi dan tinggal di Cedar Riverside, sebuah tempat di dekat pusat kota Minneapolis, negara bagian Minnesota. Sejak medio 90 an, pemerintah Amerika menyediakan tempat yang juga disebut sebagai ‘the Little Somalia’ itu.  Mereka meninggalkan Somalia yang hancur lebur akibat perang, dan mencari kehidupan baru nun jauh Di Amerika sana, lebih tepatnya di Minnesota. Lima apartemen pencakar langit berdiri gagah di kawasan itu, simbol kerasnya perjuangan mereka menginjakkan kaki di Minnesota.

ilhan.png

Ilhan Omar bukan perempuan biasa. Dia baru saja mencatat sejarah gemilang dalam kontestasi politik Amerika yang digelar November 2016 silam. Ilhan adalah perempuan muslim pertama, perempuan Somalia pertama, perempuan asal Afrika pertama, yang berhasil terpilih sebagai anggota parlemen di Amerika. Yang lebih istimewa, Ilham meraih pencapaian itu ketika sentiment rasisme, kampanye anti Islam dan retorika anti imigran tengah menguat dan menghujam deras segala sendi kehidupan masyarakat Amerika.

 

Hidup sebagai Anak Pengungsi

Dalam diskusi sore itu, Ilhan banyak bercerita tentang kehidupannya sebagai pengungsi, dan pengalaman-pengalaman ‘rasis’ yang dia alami karena identitas yang dia miliki: kulit hitam dan beragama Islam.

Bayangan dia tentang Amerika yang serba sempura seolah tidak sejalan dengan kenyataan yang dia rasakan. Memang betul, Amerika memiliki segalanya: pendidikan yang bagus, bangunan yang megah, dan lapangan pekerjaan yang mumpuni. Tapi, Amerika juga punya kekurangan, dan terkenal ‘kurang ramah’ dengan orang-orang non kulit putih. Ilhan merasakan betul pengalaman itu.

Menurut Ilhan, Bukan Bahasa yang menjadi tantangan utama sebagai warga baru Amerika, tapi perlakuan diskriminatif yang kerap kali dia terima. Sebagai imigran, beberapa guru dan teman sekolah seringkali menganggap remeh karena dia dianggap tidak cakap beradaptasi dengan kehidupan sekolah di Amerika.

Pernah suatu kali, Ilhan menyelesaikan soal matematika yang sulit di depan kelas. Suara-suara sumbang terdengar jelas. “Anak imigran tidak mungkin bisa Matematika.” Dia memberanikan diri karena  ingin membuktikan bahwa Bahasa Inggrisnya yang terbatas bukan hambatan untuk bisa berprestasi di sekolah. Dia berhasil, dan membuat ‘kaget’ se isi ruangan kelas.

Momen itu adalah satu dari sekian momen masa kecil yang menguatkan kepribadian Ilhan. Pengalaman demi pengalaman  membentuk mental pejuang Ilhan, dan memupuk karakternya yang tangguh dan empatik terhadap lingkungan sekitar.  Pengalaman masa kecil ini kelak menjadi poin penting dalam karir politik Ilhan.

 Melawan dua Tantangan

Perjuangan Ilhan meraih kursi parlemen tidak berjalan mulus, bahkan penuh terjal dan rintangan. Tantangan pertama justru datang dari komunitas terdekatnya, warga Somalia di Minnesota. Sebagai perempuan, Ilhan dianggap belum mampu dan belum pantas mewakili aspirasi mereka di Parlemen. Apalagi, disaat yang bersamaan, dia harus menghadapi kandidat lain yang juga berasal dari Somalia. Kandidat ini dianggap lebih mampu karena punya pengalaman lebih mumpuni dan laki-laki.

Dia juga harus bertarung dengan kandidat lainnya yang jauh lebih kuat dan jauh lebih berpengalaman. Namanya Phyllis L. Khan, orang-orang lebih mengenalnya sebagai Rep. Khan, panggilan khas untuk para anggota parlemen di Amerika. Khan ini bukan kandidat biasa. Khan adalah kandidat petahana yang menduduki jabatan yang sama sejak tahun 1973 atau 43 tahun.

Rep. Khan juga memiliki latar belakang pendidikan yang ‘wah’. Perempuan kharismatik ini merupakan alumni dari kampus-kampus kelas satu di Amerika, atau biasa disebut Ivy League: Cornell University, Kennedy school of Harvard University, Yale University, dan Princeton University. Ilhan sendiri memegang gelar sarjana dari North Dakota State University, dan program non gelar bidang politik dari Humprey School of Public Policy, University of Minnesota.

Dua tantangan besar sempat menyiutkan nyali Ilhan untuk mendaftar dan maju sebagai kandidat anggota parlemen. Untunglah, Ilhan memiliki dua supporter utama yang selalu ada di samping Ilhan: Suami dan Ayahnya.

 Kemenangan yang Istimewa: Against All Odds

Ilhan

Ketika akhirnya Ilhan Omar memenangkan pertarungan, masyarakat Minnesota dan bahkan Amerika menyambut dengan luar biasa. Ilhan seketika menjadi headline berita-berita utama di Amerika. Wajah dia hilir mudik dari satu stasiun TV ke TV lainnya.

Orang-orang menyebut Ilhan sebagai fenomena. Kemenangannya dianggap sebagai sesuatu yang luarbiasa, against all odd. Kemenangan Ilhan adalah oase di pandang tandus demokrasi Amerika yang masih sangat kental dengan sentiment antar golongan dan sexism. Terpilihnya Ilhan juga seolah menjadi harapan ditengah ‘kesedihan’ warga Minnesota pasca terpilihnya pemimpin yang gemar mengeluarkan retorika-retorika rasis dan narasi kebencian, Donald Trump.

Dia dianggap tidak hanya mewakili perempuan Muslim Amerika, tapi juga simbol perempuan Amerika dan Kaum muda Amerika yang menuntut perubahan dan jengah dengan retorika penuh kebencian yang mendominasi ruang-ruang publik di Amerika dalam satu tahun terakhir.   Tak heran, Ilhan meraih simpati luar biasa dari kalangan mahasiswa dan komunitas imigran ‘East-Africa’ sebagai basis terbesar pendukung Ilhan.

Langkah Awal sebagai Anggota Parlemen

Buat Ilhan, kemenangan ini adalah awal dari perjuangan panjang dia di dunia politik. Tidak mudah bagi Ilhan memutuskan terjun ke dunia politik dan bertarung menjadi anggota parlemen. Dia sempat menolak tawaran sebanyak 7 kali sebelum akhirnya mengatakan iya dan memenuhi permintaan masyarakat yang menginginkan dia maju sebagai anggota parlemen.

Dana yang terbatas, jaringan yang terbatas, pengalaman politik yang minim, identitas ‘double minorities’ sebagai pengungsi dan Islam, nyatanya berhasil dia dobrak. Ilhan terpilih secara meyakinkan sebagai anggota parlemen di negara bagian Minnesota dalam usianya yang masih sangat muda, 36 tahun.

moslem day.jpg

Ilhan adalah simbol perjuangan sebuah ketidakmungkinan. Kekuatan besar dia lahir dari pengalaman dia menjadi korban perlakuan diskriminatif dan stigma negatif sebagai ‘pendatang’ dan  pemeluk Islam di Amerika. Visi besar dia menghadirkan keadilan di masyarakat muncul dari proses dan perjuangan panjang dia untuk melihat Amerika yang lebih ramah dan adil terhadap semua orang.

Perjuangan Ilhan belum selesai. Dibawah sorotan demi sorotan kamera yang semakin akrab dengan dirinya, dia kini memulai hidup baru sebagai anggota parlemen, sebagai pelayan warga Minnesota. Jalan masih panjang bagi Ilhan untuk mewujudkan visi misinya, menuntaskan janji yang dia ucapkan untuk Minnesota yang lebih ramah dan lebih adil untuk semua kalangan.

Senyuman yang Ramah dan Khas

17492375_10154608100792869_6394320113471243544_oDi ujung diskusi, Ilhan dengan ramah menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang saya ajukan. Sambil menawarkan dirinya untuk melakukan selfie, dia berkata dengan ramah, “I am good at selfie. Don’t worry”. Klik, kami pun melakukan selfie bersama, dengan latar belakang meja ruangan diskusi yang masih tertata rapih.

Di akhir pembicaraan, Ilhan menitipkan salamnya untuk teman-teman di Indonesia. “I am surprised that I am popular too in indonesia. Please give my best to your friends in Indonesia.” Senyuman khas Ilhan menutup obrolan singkat sore itu. Jabatan tangan menjadi penutup resmi pertemuan berkesan saya dengan Ilhan, anggota parlemen muslim perempuan pertama di Amerika.

 

Advertisements

‘Don’t take it for granted’ barangkali adalah ungkapan yang pas untuk mewakili kejadian ‘unik’ hari itu. Bahasa populernya, jangan pernah menyepelekan sesuatu bahkan untuk hal yang terlihat sepele. Semua bermula dari hal sederhana, persepsi tentang sebuah nama ‘Mal’. Selama bertahun-tahun tinggal di Jakarta, Mall adalah hal yang lumrah dan familiar. Siapa sih orang Jakarta yang tidak kenal Mall?. Gampangnya, ketika kata Mall disematkan pada nama sebuah tempat, itu pasti nama sebuah Mall. Misalkan, Mall Pondok Indah artinya nama sebuah Mall yang terletak di Pondok Indah, atau Mall Kelapa Gading artinya Mall yang ada di kawasan Kelapa Gading.

Persepsi saya tentang ‘Mall’ itu kemudian secara otomatis saya terapkan di tempat tinggal sekarang, Kota Minneapolis. Sayangnya,Persepsi saya tentang Mall di Minneapolis ternyata berujung  mispersepsi. Benar kata pepatah, ‘When you are in China, act like a Chinesse’. Saya tidak memahami konteks lokal dari sebuah nama.  Beberapa hari yang lalu, saya mampir ke toko resmi T-Mobile di Nicollet Mall untuk kedua kalinya. Sebelumnya, saya diantar seorang teman ke tempat tersebut. Tempatnya bagus dan nyaman, mirip sebuah Mall di Jakarta. ‘Ooh, ini toh mall di minneapolis’. Pikirku saat itu. Saya membuat kesimpulan sendiri bahwa ‘Nicollet Mall adalah nama sebuah Mall’.

Karena merasa sudah tahu lokasinya, saya dengan pedenya melangkah ke pusat kota (istilah lokal: downtown) menggunakan bus umum, metro transit. Biasanya, saya menggunakan ‘Google Maps’ setiap kali jalan-jalan di Kota Minneapolis. Khusus kali ini, saya tidak merasa perlu menggunakan google maps. Pikir saya, kalaupun nyasar, tinggal tanya saja lokasi ‘Nicollet Mall’, pasti semua orang tahu. Penyelepean itu ternyata berujung ‘nestapa’. Sesaat saya tiba di pusat kota, saya ternyata kesulitan menemukan lokasi T-Mobile Nicollet Mall.  Orang-orang yang saya tanya tidak tahu lokasi yang saya tanyakan. Seorang polisi yang sedang berpatroli pun coba saya hampiri. ‘Excuse me, sir. I am wondering where is the Nicollet Mall?’. Pak polisi menjawab dengan ramah,’Yes, you are in the Nicollet Mall. What street number is it?”. Saya mulai kebingungan dengan jawaban pak polisi. Saya masih berkeliaran di jalanan tapi disebut sudah ada di Nicollet Mall. ‘No, I mean T-Mobile merchant in Nicollet Mall’. Saya masih ‘keukeuh’ berasumsi Nicollet Mall itu nama sebuah mall, ‘This is Nicollet mall. Along the street is Nicollet Mall (sambil nunjuk tangannya ke sepanjang jalan). It’s a street, not a name for building”. WHAT? NICOLLET MALL IS A NAME OF STREET? #TepokJidat.

Ternyata, Nicollet mall adalah nama sebuah kawasan yang membentang cukup panjang dan berdiri puluhan gedung tinggi diatasnya. Nicollet Mall itu bukanlah nama sebuah gedung mall sebagaimana asumsi saya tentang mall di Jakarta Alhasil, saya berkeliling hampirr satu jam hanya untuk mencari dimana kantor T-Mobile yang lokasinya berada di kawasan jalan nicollet Mall. Saya seperti tersesat di tempat yang seharusnya saya tidak harus tersesat.

Well, It’s a lesson. Lain kali, jangan pernah menyepelekan sesuatu. Selalu mempersiapkan segala sesuatu dengan baik sebelumnya. Yang paling penting, ‘Don’t always take  something for granted’.

“Ada tiga hal yang menyatukan ‘urang’ sunda, lalapan atah (baca:mentah), jengkol dan Persib.” Demikian cerita seorang teman ketika menggambarkan persatuan ‘urang’ sunda. Cerita tersebut ada benarnya, terutama tentang sebuah klub sepakbola bernama Persib. Bagi urang Sunda, Persib adalah bahasa persatuan. Tak peduli seberapa jomplang perbedaan yang ada, semua akan kompak ketika mendukung Persib.

sunda

Sebagai urang Sunda, mencintai Persib itu penting. Minneapolis, tempat saya tinggal saat ini, memang terpaut ribuan mil dari Bandung. Tapi, jarak itu seolah mendekat dengan sendirinya ketika Persib bermain. Fisik boleh terpisah jauh, tapi dukungan tidak boleh pergi jauh-jauh. Dimana Bumi dipijak, disitu Persib didukung.

Tugas kuliah yang menumpuk pun harus sejenak diistirahatkan. Mendukung Persib  itu sudah seperti keharusan. Untungnya, Internet disini super cepat, dan akses live streaming juga mudah didapat. Jadi, tidak ada hambatan untuk menikmati pertandingan. Selisih waktu 12 Jam juga membantu  untuk selalu standby menanti pertandingan Persib. Biasanya, pertandingan dimulai pada jam 6 pagi waktu Amerika. Alhasil, menonton Persib menjadi aktivitas pertama yang dilakukan selepas solat Subuh.

-Baca Selanjutnya->

Menghadapi Wawancara 

“Practice doesn’t make perfect. Practice reduces the imperfection”

Toba Beta-Master of Stupidity

Latihan tidak akan menjadikan kita sempurna. Tapi Latihan akan mengurangi ketidaksempurnaan kita. Kutipan itu cocok menggambarkan persiapan saya menghadapi tahapan lamaran aplikasi beasiswa saya berikutnya: Duduk di meja wawancara.  Saya jauh dari sempurna dan latihan yang baik akan mengurangi ketidaksempurnaan saya.

Setelah saya menerima email membahagiakan itu, saya punya waktu satu bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi hari besar tersebut.

Screen Shot 2015-09-12 at 10.36.22 AM

Persiapan ini kemudian membawa memori saya mundur dua tahun ke belakang. Saya jadi ingat hari dimana saya akan melamar Istri saya sekarang. Saya jadi rajin-rajin mandi, rajin jaga kebugaran dan mempersiapakan segala hal untuk menghadapi hari besar itu, hari dimana saya akan ditanya oleh calon mertua,’Siapkah menikahi putri saya?”. Kurang lebih begitulah saya. Jadi lebih rajin dan lebih semangat.:-)

Sebelum Wawancara itu Tiba

  1. Memilih 3 foto terbaik

Dalam isi email wawancara, saya diminta untuk mempersiapkan 3 foto yang menggambarkan kegiatan dan keseharian saya. Saya langsung menuju folder foto yang saya punya dan memilah milih foto terbaik yang saya suguhnya. Untungya tidak ada foto mantan ataupun mantan ibu kos yang dulu sering nagih uang kos bulanan di folder. Proses pemilihan itu berjalan lancer dan saya memilih 3 foto terbaik yang menurut saya layak untuk disodorkan. 1 foto berisi kegiatan social saya di Initiatives of Change Indonesia, 1 foto tentang kegiatan saya mengisi sebuah training dan 1 foto lainnya tentang kegiatan saya mengunjungi satu madrasah di sudut kecil kota Mamuju, Sulawesi Barat.

-Baca Selanjutnya->

“Beasiswa itu bukan untuk orang pintar. Beasiswa itu buat orang yang INGIN pintar, bukan yang SUDAH pintar. Orang yang ingin pintar, ia akan selalu berusaha mendapatkan informasi beasiswa bagaimanapun caranya.”

Kalimat diatas dinukil dari pendapat Ahmad Fuadi, Penulis Novel “Negeri 5 Menara’ dan ‘Ranah 3 Warna”. Beliau adalah inspirasi untuk para pengejar matahari, para pejuang mimpi, para pemburu beasiswa. Beliau berhasil melanglang buana ke berbagai negara secara gratis melalui beasiswa. Dua diantaranya yaitu Fullbright (Amerika Serikat) dan Chevening (Inggris).
(https://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Fuadi)

Benar kata Ahmad Fuadi, Man Jadda wa Jadda. kalo serius, pasti bisa (Kalo versi saya, Man Jadda wa Jadi 🙂 ) Bagi saya pribadi, Beasiswa adalah jembatan virtual antara mimpi, cita-cita dan kenyataan. Tak heran, beasiswa selalu menjadi magnet ribuan orang karena memang menawarkan sesuatu yang manis dan gurih. Tanpa beasiswa, mimpi kuliah tinggi-tinggi di luar negeri semodel Eropa dan Amerika Serikat mungkin hanya sebatas asa saja. It’s merely a daydream. Biaya yang mahal tentu menjadi alasan logis untuk itu. Apalagi di tengah kurs dollar yang tengah meroket tajam. Ini contoh betapa mahalnya biaya kuliah di Amerika Serikat dan Inggris.

http://news.okezone.com/read/2015/06/22/65/1169589/siapkan-rp700-juta-untuk-kuliah-di-amerika

http://news.okezone.com/read/2015/06/22/65/1169225/kuliah-di-inggris-butuh-rp700-juta-per-tahun

Oke, angkanya sama, 700 Juta untuk biaya kuliah di Amerika dan Inggris. Saya tepuk jidat sering-sering, elus dada sambil nepuk-nepuk kepala pas baca berita itu. Darimana (dan entah kapan) punya uang 700 juta? Nunggu rupiah diatas dollar? Atau nunggu dollar tiba-tiba mengetuk pintu rumah dan menawarkan kebaikannya? Well, tampaknya sulit bisa kuliah ke luar negeri dengan biaya sendiri sebesar itu.

Nah, ditengah ketidakmudahan itu, ada salah satu solusi paling popular untuk kuliah di luar negeri. Yes, beasiswa pastinya adalah jawabannya. Beasiswa adalah solusi mimpi kuliah di luar negeri bagi mereka yang hampa duit tapi kaya Do It (baca:Semangat). Kata teman saya yang sukses berkali-kali menembus beasiswa, kita cuma harus berani Kepo dan rela rempong buat dapat beasiswa karena ternyata semua proses riweuh, rempong dan njelimet.

Well, saya bukan orang pintar, bukan juga seorang ahli, saya hanya senang berbagi. Nah, tulisan ini saya tuangkan dalam rangka berbagi informasi dan berbagi perasaan tentang pengalaman saya ketika melamar salah satu beasiswa ke Amerika Serikat bernama PRESTASI-USAID

-Baca Selanjutnya->

Terimakasih, Mah…!

download

Mamah, aku memanggil beliau dengan sebutan itu, bukan ibu, bunda,emak ataupun umi. Entah kenapa aku memanggilnya mamah, tapi yang jelas, sebutan mamah itu membuat aku sangat dekat dengan beliau. Dulu, Ketika masih SMP, SMA dan kuliah, mamah adalah tempat terbaikku untuk curhat. Mulai dari urusan asmara, asrama, dan sakit mata, beliau selalu ada untuk aku , anaknya. Well, Beliau adalah wanita terhebat yang pernah aku jumpai di muka bumi ini. Beliau adalah mamah, orang yang melahirkanku ke dunia, Persis 30 tahun silam.

Hari ini, jam 7 pagi tanggal 07 September 2015 (Jam 19.00 tanggal 06 september malam waktu Amerika), ada hal  yang sangat istimewa dengan mamah. Beliau mengirim BBM ucapan selamat ulang tahun untuk aku, anaknya semata wayang.

Screenshot_2015-09-06-21-51-53

FYI, ini ucapan ulang tahun yang pertama dari mamah via BBM. sebelum-sebelumnya belum pernah..:-)

Ada dua hal yang aku syukuri dari BBM itu. Pertama, aku beruntung, bersyukur punya malaikat bernama mamah yang selalu mendoakan, mendukung dan mengikhlaskan apapun keputusan yang dibuat aku, anaknya. Kedua, aku senang, lega,bahagia, akhirnya mamah mulai terbiasa menggunakan teknologi modern bernama smart-phone beserta berbagai macam fitur canggih di dalamnya.

Kita skip dulu penjelasan point pertama. Saya akan masuk ke penjelasan kedua. :-)..Mamah bisa pake smartphone!

-Baca Selanjutnya->

“Cerita ini bukan fiktif belaka, cerita ini mengandung kebenaran 100%. Tokoh dan karakter yang dimainkan adalah nyata. Cerita ini adalah dalam rangka berbagi cerita, berbagi pengalaman, tahadduts bini’mat“.

Bantul, 24 Juli 2014;

Detik-detik menjelang pengumuman

Saat itu saya sedang berada di sebuah daerah bernama Gua Pindul, tepatnya sedang menikmati sebuah sungai yang bersih di Pelosok Kabupaten Bantul. Dengan berat hati, Smartphone saya tinggalkan selama mengarungi sungai. Berat, terasa berat.deg Dari hari kemarin hingga pukul 11 siang hari itu, smarthphone yang terkoneksi ke Internet menjadi hal wajib yang harus saya pegang. Email, twitter, facebook; 3 akun penting yang saya akses setiap saat selama dua hari itu. Bukan apa-apa, saya ‘dag dig dug’ menanti pengumuman super penting: Hasil Akhir seleksi beasiswa PRESTASI USAID Scholarship. Hingga beberapa detik menjelang nyebur ke sungai, pengumuman itu tak kunjung datang. “Mungkin belum jodohnya” ucapku dalam hati dengan sedikit pasrah.

-Baca Selanjutnya->